CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Senin, 26 Maret 2012

Syndrome Asperger -Part 1- (by @ceritaicil)

Gadis itu berjalan perlahan mendekati gerbang sekolahnya dengan kepala menunduk. Ketika dia sampai ke gerbangnya itu, dia menutup kedua telinga dan melontarkan harapan kecil dihatinya, untuk menghentikan suara yang menurutnya terlalu bising di telingannya.

Dia menaikan kepalanya sebentar, berharap melihat sahabatnya untuk mendampinginya dan menenangkannya ketika suara bising itu menyertai perjalanannya.

Gadis itu kembali menundukkan kepalnya, ketika tak mendapati ada tanda-tanda temannya dan berusaha untuk cepat-cepat mencapai kelasnya dan...

Bruk

Gadis itu terjatuh diatas lantai putih itu dan meratapi lututnya yang berdenyut. "maaf banget gue gak sengaja" katanya meminta maaf -karena orang itulah yang menabrak duluan gadis ini-, dan langsung berlari tanpa membantu gadis itu berdiri.

Gadis itu mendesah pelan dan meletakkan tangannya di lantai, dinaiki sedikit tangannya untuk menstabilkan dia agar berdiri.

Setelah berhasil berdiri, diapun berjalan dengan gerakan agak pincang menuju kelasnya. Saat tiba dikelas, dia mengedarkan pamandangannya untuk mencari salah satu temannya. Ketika mendapati temannya yang sudah rapih ditempat duduknya, gadis itu memberika sunggingan kecil, "gimana tadi?" tanya saat gadis itu meletakan tasnya.

"berisik, sangat berisik seperti sekolah ini berniat memecahkan gendang telingaku" katanya mengeluh, temannya tersenyum pelan, menyadari gadis ini memang tidak suka dengan kermaian atau lebih tepatnya, syndrome asperger. Tetapi tak begitu parah dan tak seperti anak autisme lainnya.

"haha, menurutku tak terlalu berisik sekarang"katanya tertawa pelan.

"kamu tak pernah mempunya syndrome asperger sepeti ku, jadi kamu tak tau rasanya" katanya membela diri, "oh yah, lain kali kita harus janjian biar bareng masuk sekikahnya" katanya melanjutkan perkataanya lagi, dan satu yang aneh, gadis ini akan hilang syndromenya ketika diajak berbicara, walaupun sebising apapun keadaan sekitar, menurutnya kalau dia sedang berbicara dia akan lupa tentang syndrome yang di punya, tetapi memang dengan orang tertentu, tak terkecuali temannya ini.

Temannya itu lagi-lagi tersenyum dam menyentuh pelan rambut gadis yang disampingnya' "iya shilla" katanya lagi.

gadis itu pun hanya terkesiap, "memang kamu sahabat terbaik, rio" katanya.

tiba-tiba zevana -sang ketua kelas- menyeruak dengan senyum mengembang di bibirnya, "sekarang guru-guru sedang ada rapat, jadi kita bebas dua jam" kata zevana senang, sontak anak-anak dikelasnya berteriak senang.

Seorang cowok menghampiri mejanya, "yo, basket yuk" kata gabriel yang cukup menggamari basket.

Rio tiba-tiba menoleh shilla, dan menatapnya khawatir karena pasti teman sekelasnya tak seluruhnya keluar kelas, memilih dikelas dan pasti akan ribut sekali, "udah sana yo, aku ke taman belakang aja" kata gadis itu lembut.

Rio pun kembali menatapnya, sedikit menimang-nimang. Dan mengacungkan jempolnya ke gabriel. Dan memandangi lagi gadis itu, "udah sana pergi" katanya, rio pun pergi bersama teman yang lainnya dan menuju lapangan basket, yang tepat di depan kelasnya.

Gadis itu mendesah pelan dan melangkahkan kakinya dengan dua tangan dikupingnya karena kelasnya sudah memulai berisik dan sangatlah ramai.

Memang sudah jadi ritualnya, kalau jam kosong ataupun istirahat. Dia memhlih untuk ke taman belakang sekolahnya atau perpustakaan. Itu juga kalau, rio. Temannya tak dapat menemaninya.

Gadis itu melirik bentar mendapati seseorang juga berada disana dan tertidur pulas. Dengan hati-hati, dia duduk di rumput disamping pemuda yang tertidur. Dia pun melihat raut muka pemuda itu, pemuda yang baru saja bertemu gadis ini tadi pagi, tepatnya kaka kelas yang tertabrak tadi.

Gadis itu mengalihkan pandangannya dari pemuda itu dan mengambil seuntai rumput untuk dimainkannya, karena tak ada objek yang menarik lagi.

pemuda itu menggeliat pelan dan menguap membuka matanya. Gadis yang di sampingnya tersentak kaget, mendengar menguapnya pemuda ini, diapun menoleh kesamping, kearah pemuda itu.

"oh hey, ngapain lu disini? Lu yang pernah gue tabrak kan, ada yang sakit?" ujar pemuda itu menyadari, ada seseorang di samping.

Gadis itu menunduk pelan.

"eh jawab dong, malah nunduk. Gausah taku ama gue, gue gak ngigit kok?" ujarnya disenggahi dengan tawa kecil.

gadis itu tak menjawabnya dan terus menunduk.

"eh, lu denger gak sih? jawab dong" kata pemuda itu kesal dan memaksa, karena dari tadi hanya didiamkan saja.

"kakak berisik, jangan berisik" kata gadis itu pelan, pemuda itu hanya menoleh sebentar ke arah gadis itu dengan mengernyit pelan. Padahal cuma ngomong kayak gitu, dibilang berisik, batinnya.

"hey shilla" ujar seorang pemuda yang tiba-tiba duduk di samping gadis itu.

"gak main lagi?" ujar gadis itu heran melihat sahabatnya, rio.

Rio, hanya tersenyum pelan dan menjawabnya, "aku khawatir aja"

gadis itu tersenyum malu, "ih, apaan sih. Orang biasanya juga aku sendirian" ujarnya.

Pemuda itu, terkekeh pelan. "hehe, aku lagi bosen main basket. Mending juga nemenin kamu yang sendirian disini" katanya.'

ehm' kaka kelasnya berdehem pelan, tak menyutujui kalau gadis disampingnya sendirian. Tapi berdua dengannya.

Rio, tekesiap pelan. Menyadari kakak sepupunya, rupanya berada di samping gadis itu "elo kak, sejak kapan disini?" ujarnya.

"sejak, nyokap gue lahir" katanya ngaco. Rio menyipitkan matanya bingung, " sejak tadi oon, lu gak liat gue" katanya ngomel.

Rio, tertawa pelan. "maaf kak, gue gak liat elo" kata rio, "oh yah shill, ini alvin, kaka sepupu aku" kata rio lagi, memperkenalkan kaka kelasnya itu.

Shilla hanya tersenyum dan membisikan suatu kata ke kedua kuping rio, "orangnya berisik banget"katanya mengaduh.

lagi lagi rio tertawa dan sedikit mengusap ubun-ubun kepa shilla, "kak alvin emang berisik kok"katanya lagi, alvin yang menatap langit biru, menoleh karena merasa namanya dipanggil.

"dih? gue gak berisik kok, orang tadi cuma nanya ama dianya" katanya membela diri.

gadis itu menatap kakak sepupu temannya itu, lalu pergi meniggalkan mereka berdua. rio mngernyitkan keningnya heran dan ditatapnya kakak kelasnya ini, yang tak tahu apa-apa.

"elo sih, shilla pergi kan." kata rio mengoeli kaka sepupunya itu.

"kok gue sih, orang gue cuma ngmong itu doang kok"kata kakak sepupunya kembali membela diri.

"elunya gak tau sih kak. shilla itu punya syndrome asperger" kata rio.

alvin, tersentak bingung. jadi,pantas saja gadis ini mengacuhkannya, selain takut dengan kermaian. syndrome asperger ini juga sulit bersosialisasi. dalam diam, dia menyesal karena tadi begitu memaksa gadis itu, untuk menjawab pertanyaanya

"ternyata benar kau disini?" ujar Rio menghampiri Shilla yang sedang terduduk diam di perpustakan. Tangannya sibuk membalik lembar novel yang tebalmya tak terkira, sebuah novel yang terkenal. Harry Potter.

"mmm. Iya"ujarnya singkat. Mengabaikan keberadaan Rio yang tengah menatapnya dalam. Shilla, seorang gadis yang menderita Syndrome Asperger. Tapi tak membuat gadis ini aneh, menurutnya. Shilla malah terlihat begitu istemewa dimatanya. Apakah dia mencintainya? Ntahlah hanya hatinya yang dapat menjawab, pertanyaan itu.

"shill. Tadi sepupuku jahat yah ke kamunya. Maafin dia. Dia gak tau kalau kamu salah saty penderita syndrome asperger." terang Rio, mewakili permintaan maaf Alvin, "mau kan maafin dia?"

Shilla hanya mengangguk, tak peduli. Dia asyik dengan novel yang dibacanya. Rio mendesah pelan, selalu saja, jika Shilla  tengah asyik begini. Dia diabaikan, Rio memutuskan untuk meninggalkan gadis ini ditengah keseriusannya. Rio berdiri dan siap untuk melangkah, tapi dicegah Shilla dengan menarik tangan kanan Rio. "jangan pergi. Temenin aku disini yah. please" minta Shilla.

Rio tersenyum, "Nemenin kamu? Aku aja dicuekin kayak tadi. Kan akunya jadi males sendiri" ujarnya.

"iya deh aku gak cuekin kamu. Tapi kamu jangan banyak bicara makanya, kan aku lagi serius baca" ujar Shilla.

Rio mendesah. Sama saja kan, jangan banyak bicara? Jadi untuk apa dia menemaninya. Kalau Shilla bukan gadis istemewa di hatinya. Sudah dia tinggalkan daritadi. Rio menagguk tak ketara, lalu duduk disampin Shilla. Shilla kembali ke dalam bacaannya dan Rio memainkan HandPhone-nya melepakan segala kejenuhan yang terasa.

*

"Yo, Shilla itu gimana? Gak apa-apa kan?" tanya Alvin dengan khawatir kepada Rio. Jelas khawatir, karena dia tak tahu Shilla salah satu mengidap syndrome aperger.

Rio menggeleng menandakan kalau Shilla baik-baik saja. Alvin menghelas nafas lega, "oh, iya. Yo numpang mobil lo yah. Motor gue lagi dibengkel sekarang." ujar Alvin. Rio dan Alvin tinggal bersama. Yang tepatnya adalah, Rio menumpang di rumah orang tua Alvin, karena orang tuanya, berkerja di luar negeri.

"motor lo kenapa? Pasti lo bawaa kebut-kebutan terus masuk bengkel. Dan ntar lo bilang ama tante sama om, motor lo mogok ditengah jalan dan terpaksa dibengkel. Dan pasti gue kena getahnya, mobil gue pasti yang lo pinjem, selama motor lo dibengkel" terang ketus Rio.

"good. Tau aja lo. Udah pulang yuk, gak usa galak-galak gitu, ntar guenya merinding liat lo" terang rio disenggahi dengan tawa.

"lo. Dari dulu gak pernah berubah yah, selalu aja nyusahin gue. Padahal kalau dari segi umur, lo setahun lebih tua dari gue. Seharusnya, gue yang nyusahin lo bukan sebaliknya." nasihat Rio, ditutup dengan Alvin yang terlihat masuk ke dalam mobil Rio. Alvin,  Seperti tak mendengar ucapan adik sepupunya ini.

Rio melirik sepupunya kesal. Dia membuka pintu mobilnya, "Alvin. Lo dinasehatin tadi ngerti enggak sih? tau deh, capek gue ngehadapin elo-nya" ujar Rio, memasuka kunci mobilnya, dan menjalankan mobilnya.

"lo bawelnya kaya ibu-ibu. Males dengernya" ujar Alvin santai. Rio menghelas nafasnya, kaka sepupunya satu ini sangat menyebalkan, tapi juga sangat dia sayangi, sayang adik ke kakaknya, tentunya.

*

rio. Aku mau ajak km ke bukit. Km gausah jmpt aku. Biar aku yg jmpt km. Aku mnt alamat km dong. Kan aku gapernah ke rmh km.

Beberapa baris menghiasi pesan singkat Rio. Rio tersenyum senang, dia mulai mengetikan balasan pesan singkat dari Shilla. Dan bersiap-siap untuk pergi bersama Shilla.

tigapuluh menit kemudian. Shilla sudah ada didepan rumah Rio, tepatnya rumah Tante dan Oom-nya. Shilla memncet bel rumahnnya, dan keluar ibu-ibu yang terlihat memegang sapu, "cari siapa yah, non?" tanyanya pada Shilla.

"Rio" ujarnya tersenyum. Ibu-ibu tadi, mempersilhkan Shilla masuk terlebih dahulu, dan pergi keatas memanggil Rio, pastinya. "den. Ada temannya dibawah" ujarnya sambil mengetuk pintu kamarnya.

Rio membuka pintu kamarnya dan menjawab, "oh yah bi, makasih yah"

Rio mengambil HandPhonenya dan menuju bawah -karena kamarnya terletak di atas- di bawah, sudah ada gadis masnis yang duduk diruang tamu. Ia menggenakan baju terusan seperti dress baby pink. Dan menggerai rambutnya. Cantik sekali pastinya. "udah lama, shill?" tanya Rio sekedar basa-basi.

"enggak kok. Ayo" ujar Shilla tersenyum. Tapi, HandPhone Rio berbunyi, menandakan ada sebuah telepon. Rio melihat layar HandPhonenya, rupanya dari Ify, segera dia mengankat tekeponnya.

"halo fy. Kenapa telepon" ujar Rio.

"yo, lo nyimpen proposal pensi kan? Sini gue mau kerjaiin, besok dikumpulin sialnya, lo bisa anter ke rumah gue, terus sekalian bantuin gue. Lo kan panitianya juga. Please ya" pinta ofy, diseberang telepon.

Rio memikirkannya sebentar, kalau dia menolak permintaan Ify, dia pasti dianggap tak prefesional, tapi shilla. Bagaimana dengan shilla. Rio menghembuskan nfasnya, "iya fy, gue sekarang kesana" ujarnya menutup telepon.

"jadi gak, yo?" tanya Shilla saat melihat Rio menutup teleponnya.

Rio tampak memikirkan sesuatu, " kamu perginya enggak sama aku, gimana? Sama Alvin aja yah. Dia baik kok" ujar Rio seketika.

Shilla tampak bimbang, dia mau melihat bintang. Tapi juga dia tak mau bersama Alvin, "yaudah deh, yo. emang kamu mau kemana?" tanya Shilla.

"ngurusin Pensi, tunggu bentar yah aku panggilin Alvinnya" ujar Rio.

Taklama kemudian, Rio sudah muncul bersama Alvin, "lo tau kan, vin? Bukitnya" tanya Rio kemudian, alvin mengangguk malas. Sebenarnya dia malas sekali menemani gadis ini, kalau bukan pemaksaan Rio yang disertai embel-embel permintaan maafnya pasa Shilla, dia tak mau seperti ini.

"sini pinjem mobil lo. Motor gue masih dibengkel" ujar Alvin meminta kunci mobil Rio.

"terus gue gimana?" tanya Rio, "pake mobil nyokap aja, kalau lo pasti dibolehin, kalau gue pasti gak dibolehin" jawab Alvin santai, Walaupun Gladys -Ibunya Alvin- adalah orangtua dari Alvin, tapi dia tak mau meminjamkan mobilnya pada anaknya sendiri, karena Alvin sudah merusakan mobil Gladys, tidak seperti Rio, yang menjaganya selalu.

Rio mengangguk setuju, " ayo cepat, shill" ujar Alvin mengajak Shilla.

0 komentar:

Poskan Komentar